Fosimamupsi's Blog

Mei 27, 2010

Pemulihan Korban Pasca-Gempa

Filed under: Pilar Islami — fosimamupsi @ 9:11 am

Esai yang ditulis oleh Ardiman Adami ini pernah meraih juara ketiga dalam Lomba Esai Tingkat Perguruan Tinggi se-Yogyakarta dengan tema “Yogyakarta Enam Bulan Pasca-Gempa: The Renovation Still Takes Place” yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Industri Universitas Gadjah Mada pada 11 Desember 2006.

***

Dialah Cesi Nurbandini. Umur tujuh tahun. Ibunya pengarit rumput, ayahnya kuli bangunan. Mereka tinggal di Dawuran, sebuah desa subur di Pleret, Bantul, nun di selatan Yogyakarta. Meski upah sang ayah kecil, istri dan anaknya bahagia. Cesi pun punya boneka panda besar.

Sabtu pagi, 27 Mei, si kecil menemani sang ibu menyapu halaman. Ayahnya masih tidur, lelah setelah sehari sebelumnya bekerja sampai sore. Tiba-tiba tanah bergoyang. Tanah di halaman rumah mereka terbelah, pohon-pohon di samping rumah jumpalitan. Secepat kilat ibunya menyambar tubuh Cesi, lalu berlari ke jalan raya. Kencang.

Sang ibu tiba-tiba berhenti. Cesi hampir terlempar. Perempuan itu histeris, berteriak sejadi-jadinya memanggil suaminya. Tak ada sahutan. Dari kejauhan terlihat rumah mereka telah roboh. Rata tanah. Debu menukik ke langit. Tapi ayah Cesi di mana? Perempuan itu takut kembali ke rumah sebab tanah terus bergerak. Sembari menggendong Cesi, dia terengah-engah ke rumah Mbah Putri yang tak berapa jauh dari rumah mereka. Ya ampun, rumah si Mbah juga sudah rata tanah.

Demikian cuplikan sketsa detik-detik kejadian gempa yang sempat dipotret dengan baik oleh seorang wartawan foto Tempo, Arie Basuki. Ketika orang-orang sibuk, juga cemas, siang-malam menunggu dan mewaspadai letusan Gunung Merapi, tiba-tiba kita dikejutkan oleh musibah yang jauh lebih dramatis: gempa bumi! Padahal, tak ada isyarat apapun dari alam ketika itu.

Guncangan hebat berkekuatan 6,2 skala Richter itu merupakan peristiwa katastropik dan traumatis terburuk yang pernah terjadi di Yogyakarta. Syukur tidak disertai tsunami. Namun, sekian ribu nyawa melayang dalam cekam. Rumah-rumah dan gedung berdebam. Desa dan kota tinggallah puing reruntuhan. Seribu satu cerita kedukaan mengalir deras dari balik tenda-tenda pengungsian. Masihkah ada asa yang nyaris tenggelam?

***

Pasca-gempa memang masih menyesakkan dada. Peristiwa memilukan tersebut menyisakan berbagai kondisi yang sungguh memprihatinkan. Selain menderita luka fisik, para korban yang selamat juga mengalami gangguan psikologis yang berdampak pada kondisi psikis pun spiritual mereka. Banyak analisis telah memaparkan berbagai hal tentang realitas bencana yang terjadi hingga rencana ke depan dalam membangun kembali daerah gempa dari keterpurukan. Untuk rehabilitasi tersebut tentunya tak lepas dari pemahaman yang kongkrit mengenai kondisi wilayah dan masyarakat yang meliputi kondisi pra-bencana dan pasca-bencana. Dalam hal ini, tentunya penting pula diperhatikan bagaimana kondisi psikis dan spiritual masyarakat Yogyakarta, terutama mereka yang secara langsung menjadi korban bencana.

Dalam banyak kejadian, rehabilitasi fisik relatif lebih kelihatan dan jelas pola penanganannya, walaupun juga tidak mudah karena memerlukan mobilitas dana dan prasarana yang tidak sedikit. Namun berbeda halnya dengan rehabilitasi psikis. Kondisi katastropik tersebut telah meninggalkan luka psikis yang mendalam dalam bentuk gejala-gejaka psikologis yang biasa disebut sebagai gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder).

Gejala-gejalanya, seperti seolah-olah mengalami lagi peristiwa traumatik tersebut (reexpriencing) yang sering menjelma dalam mimpi-mimpi buruk. Ada pula gejala penghindaran (avoidance/numbing) yang mewujud dalam bentuk perilaku ketakutan dan menghindar dari stimulus-stimulus yang mirip dengan pengalaman traumatik. Boleh jadi dengan meningkatnya intensitas emosi (arousal) yang dapat dilihat dari sering marah-marah, mudah tersinggung, gangguan tidur, rasa was-was, dan kecurigaan yang tinggi.

Tim Crisis and Recovery Center (CRC), Fakultas Psikologi UGM melaporkan bahwa 2,5 % dari populasi yang mengalami beban mental pasca gempa bumi tersebut akan mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri pada jangka menengah dan panjang. Artinya, kurang lebih 30 ribu korban selamat akan memerlukan bantuan psikologis mulai minggu ketiga sampai kurang lebih tiga bulan kemudian. Selanjutnya yang perlu diantisipasi adalah 1% dari populasi, atau kurang lebih 12 ribu orang yang mengalami masalah psikologis pada masa yang lebih lama. Kemungkinan besar mereka berasal dari rumah-rumah yang kondisinya rusak berat atau roboh.

Lebih jauh dijelaskan bahwa prevalensi permasalahan psikologis akan lebih tinggi pada kelompok rentan, yaitu korban yang mengalami luka-luka atau patah tulang. Untuk seluruh wilayah bencana, korban tersebut mencapai sekitar 37 ribu jiwa. Beban psikologis yang dirasakan akan menurunkan daya tahan tubuh yang berdampak pada proses pemulihan yang lebih lama atau bahkan memperparah kondisi penyakit. Kelompok rentan yang lain adalah mereka yang telah memiliki masalah-masalah psikologis sebelum bencana terjadi. Selain itu adalah ibu-ibu hamil dan bayi, serta anak-anak di bawah usia sekolah. Demikian halnya dengan lansia yang selalu menjadi kelompok rentan, sehingga perlu mendapat perhatian khusus.

Penanganan korban stres akibat gempa di Yogyakarta memang tidak mudah. Pengalaman traumatis karena gempa telah menggoncangkan dan melemahkan pertahanan individu dalam menghadapi tantangan dan kesulitan hidup sehari-hari. Apalagi kondisi trauma, kondisi fisik dan mental, aspek kepribadian masing-masing korban tidak sama.

Masyarakat yang menjadi korban dari suatu bencana cenderung memiliki masalah penyesuaian perilaku dan emosional. Perubahan mendadak sering membawa dampak psikologis yang cukup berat. Beban yang dihadapi oleh para korban tersebut dapat mengubah pandangan mereka tentang kehidupan dan menyebabkan tekanan pada jiwa mereka. Kejadian gempa di Yogyakarta menjadi beban dan tekanan tersendiri bagi para korban. Pasalnya, musibah ini baru pertama kali dialami dan merupakan kejadian yang tidak terduga sama sekali.

Ketika melakukan pendampingan psikologis kepada beberapa korban di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta (18-20/06/2006), saya bisa melihat langsung kondisi mereka. Tidak sedikit korban yang mengalami berbagai tekanan psikologis sekaligus rasa sakit yang mendalam. Kehilangan anggota keluarga telah membuat luka psikis yang dalam. Apalagi kejadiannya begitu mendadak dan mereka menyaksikan langsung anggota keluarga yang luka maupun meninggal. Kehilangan tempat tinggal juga merupakan pukulan telak. Mereka menyaksikan rumahnya yang dibangun dengan berbagai usaha hancur berantakan. Tak pelak kondisi ini menimbulkan beban psikis yang dalam.

Munculnya gejala-gejala stres, seperti rasa takut, cemas, duka cita yang mendalam, tidak berdaya, putus asa, kehilangan kontrol, frustrasi sampai depresi semuanya bermuara pada kemampuan individu dalam memaknai suatu musibah secara lebih realistis. Gejala-gejala tersebut adalah reaksi wajar dari pengalaman yang tidak wajar. Tentunya hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Mereka memerlukan cara yang tepat untuk mengatasi masalah yang dialami.

Dalam hal ini, konsep coping merupakan hal yang penting untuk dibicarakan. Konsep coping menunjuk pada berbagai upaya, baik mental maupun perilaku, untuk menguasai, mentoleransi, mengurangi, atau meminimalisasikan suatu situasi atau kejadian yang penuh tekanan. Dengan kata lain, coping merupakan suatu proses di mana individu berusaha untuk menanggani dan menguasai situasi yang menekan akibat dari masalah yang sedang dihadapinya. Beragam cara dilakukan. Namun, semua bermuara pada perubahan kognitif maupun perilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya.

Ketika seseorang tertimpa suatu musibah, biasanya ia akan mendekat kepada Tuhan dengan meningkatkan ibadah dan perbuatan baik lainnya. Hal ini diperlihatkan oleh sebagian besar rakyat Bantul yang mengaku tawakal dengan memasrahkan segalanya kepada Tuhan. Ekspresi sikap pasrah itu gampang dijumpai di lokasi bencana. Misalnya kita mendengar ungkapan, “Matur nuwun, Gusti, kawula tasih dipunparingi keselametan…” (Terima kasih, Tuhan, saya masih diberi keselamatan).

Mereka bersyukur masih diberi keselamatan. Pengalaman tersebut menjadikan mereka semakin dekat kepada Tuhan. Idealnya, mereka harus memaknai bencana sebagai sebuah musibah, bukan petaka atau azab. Bencana gempa ditafsirkan sebagai peringatan keras Tuhan kepada manusia yang telah lama berkubang dalam dosa dan dusta. Karena itu, sebagai sebuah musibah, bencana bukan akhir segala-galanya. Bencana dapat diubah menjadi sesuatu yang memiliki makna, bukan kesia-siaan apalagi keterkutukan.

Korban bencana yang tingkat spiritualitasnya tinggi akan menjadikan mereka senantiasa hidup dalam nuansa keimanan kepada Tuhan. Mereka akan memaknai aktivitasnya dalam kehidupan ini sebagai ibadah kepada Tuhan. Mereka pun akan semakin tegas dan konsisten dalam sikap dan langkah hidupnya serta semakin terikat dengan aturan Sang Pencipta dengan perasaan ridha dan tenteram. Perasaan itu akan menjadikannya kuat dalam menghadapi segala persoalan hidup. Mereka dapat mengambil hikmah atas musibah yang menimpanya, tidak putus asa, dan menjadikan hambatan-hambatan yang ditemui pasca-bencana sebagai tantangan untuk memulai kehidupan baru. Mereka menganggap bahwa bencana bukan akhir dari segala-galanya. Bencana dapat diubah menjadi suatu pengalaman positif yang memiliki makna.

Identitas spiritual dibutuhkan individu dalam mengkonstruksi makna atas pengalaman hidup. Dengan adanya kepercayaan pribadi untuk memberikan makna luar biasa kepada realitas kehidupan, agama akan mampu mengarahkan individu untuk memberikan penerimaan tulus atas musibah yang terjadi. Kondisi tersebut memungkinkan individu untuk memaknai kembali hidupnya dengan membuat perencanaan atas setiap kemungkinan yang terjadi setelah mengalami musibah untuk mencapai suatu tujuan tertentu pada masa yang akan datang.

Robert A. Emmons (2000) mengungkapkan bahwa spiritualitas bermanfaat dalam upaya untuk memecahkan berbagai permasalahan dalam kehidupan. Spiritualitas dapat memprioritas-ulangkan tujuan-tujuan (reprioritization of goals). Terlebih lagi, pribadi yang spiritual lebih mudah menyesuaikan diri pada saat menangani kejadian-kejadian traumatis. Mereka pun lebih bisa menemukan makna dalam krisis traumatis dan memperoleh panduan untuk memutuskan hal-hal tepat apa saja yang harus dilakukan.

***

Tuhan menciptakan manusia dengan segenap keunikan. Sejak ia dilahirkan, manusia memiliki potensi yang meliputi sisi psikologis, sosial, dan spiritual. Menurut Hanna Djumhana Bastaman (1995), untuk dapat memahami manusia seutuhnya, baik dalam keadaan sehat maupun sakit, pendekatan yang digunakan mestinya tidak lagi memandang manusia sebagai makhluk bio-psiko-sosial (jasmani, psikologis, dan sosial), melainkan manusia sebagai makhluk bio-psiko-sosio-spiritual (jasmani, psikologis, sosial, dan spiritual).

Secara eksplisit, Ralph L. Piedmont (2001) memandang spiritualitas sebagai rangkaian karakteristik motivasional (motivational trait); kekuatan emosional umum yang mendorong, mengarahkan, dan memilih beragam tingkah laku individu. Sementara itu, Susan Folkman, dkk (1999) mendefinisikan spiritualitas sebagai suatu bagian dalam diri seseorang yang menghasilkan arti dan tujuan hidup, yang terungkap dalam pengalaman-pengalaman transendental individu dan hubungannya dengan ajaran-ajaran ketuhanan (universal order).

Inayat Khan dalam bukunya Dimensi Spiritual Psikologi menyebutkan bahwa kekuatan psikis yang dimiliki oleh seseorang dapat dikembangkan melalui olah spiritual yang dilakukan melalui beberapa tahapan. Pertama, berlatih melakukan konsentrasi. Dengan konsentrasi, seseorang dapat memiliki kekuatan dan inspirasi karena berada dalam kondisi terpusat serta tercerahkan. Melalui konsentrasi pula, seseorang belajar dan berlatih untuk menguasai dirinya.

Kedua, berlatih mengungkapkan hasil konsentrasi melalui pikiran. Artinya, setelah seseorang mendapatkan hasil dalam konsentrasi, maka ia harus berani mengungkapkan hasil konsentrasi tersebut dalam ungkapan-ungkapan yang sederhana melalui kekuatan pikiran. Kekuatan pikiran ini nantinya akan mempengaruhi kekuatan perasaan yang dimiliki. Ketahuilah, sesungguhnya perasaan adalah ruh pemikiran, sebagaimana ucapan adalah ruh suatu tindakan. Karena itu, konsentrasi merupakan hal penting untuk mengembangkan kekuatan psikis seseorang.

Ketiga, agar dapat mengekspresikan kekuatan psikis, seseorang harus memiliki kekuatan tubuh (kesehatan fisik). Artinya, orang yang sehat umumnya memiliki pernafasan dan sirkulasi darah yang teratur dan lancar, sehingga memberikan efek bagi kemampuan mengekspresikan dirinya.

Keempat, berlatih menjaga kestabilan dan ketenangan dalam berpikir. Artinya, seseorang yang terbiasa mengembangkan kebiasaan-kebiasaan buruk dalam berpikir, seperti khawatir, cemas, takut, atau ragu tentang sesuatu, akan mengurangi daya kekuatan dalam mengekspresikan diri. Tentang hal ini, saya teringat pada kata-kata yang diungkapkan oleh seorang pegiat pelatihan manajemen diri di sebuah seminar yang pernah saya ikuti. Kata beliau, “Pikiranmu adalah awal dari perkataanmu. Perkataanmu adalah awal dari perbuatanmu. Perbuatanmu adalah awal dari kebiasaanmu. Kebiasaanmu adalah awal dari karaktermu. Karaktermu adalah takdirmu.”

Kelima, berlatih mengumpulkan kekuatan psikis yang selanjutnya digunakan untuk bertindak. Artinya, hasrat dan daya tarik kekuatan psikis yang dimiliki seseorang harus ditunda sebelum betul-betul terkumpul dan berkembang melimpah. Saat itulah kekuatan psikis mampu dimanfaatkan untuk menolong diri sendiri maupun orang lain. Kekuatan psikis yang timbul dari energi spiritual bagaikan mata air yang tercurah, melimpah secara konstan dan stabil. Karna itu, tinggal pemanfaatannya tergantung pada kesediaan dan kemauan seseorang untuk mengumpulkan dan mengembangkannya menjadi energi yang bersifat menyembuhkan (terapeutik).

Sebuah penelitian bertajuk “Religion and Spirituality in Coping with Stress” yang dipublikasikan oleh Journal of Counseling and Values beberapa tahun lalu, menunjukkan bahwa semakin penting spiritualitas bagi seseorang, maka semakin besar kemampuannya dalam mengatasi masalah yang dihadapi. Penelitian ini menyarankan bahwa spiritualitas bisa memiliki peran yang penting dalam mengatasi stres. Spiritualitas bisa melibatkan sesuatu di luar sumber-sumber yang nyata atau mencari terapi untuk mengatasi situasi-situasi yang penuh tekanan di dalam hidup.

Dalam konteks ini, penting untuk diperhatikan bagaimana kondisi spiritualitas para korban pasca-bencana gempa bumi di Bantul. Penelitian yang saya lakukan beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara spiritualitas dengan proactive coping pada korban bencana gempa bumi di Bantul. Semakin tinggi tingkat spiritualitas, semakin baik pula proactive coping yang dilakukan oleh korban, di mana spiritualitas memiliki peranan sebesar 54,9 % terhadap proactive coping pada korban gempa di Bantul. Konsep proactive coping diarahkan oleh sikap yang proaktif. Sikap tersebut merupakan kepercayaan yang relatif terus menerus ada pada setiap individu. Di mana apabila terjadi perubahan-perubahan yang berpotensi mengganggu keseimbangan emosional individu, maka sikap tersebut mampu memperbaiki diri dan lingkungannya.

Ketika melakukan proactive coping, individu telah memiliki visi yang ingin dicapai. Adanya sikap optimis dan kepercayaan atas kemampuan sendiri (self efficacy) serta adanya dukungan sosial (social support) dari orang lain akan membuat para korban gempa tersebut semakin mampu untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Kepercayaan diri serta sikap optimis yang tinggi pada individu serta adanya dukungan sosial dari lingkungannya akan memungkinkan individu lebih efektif dalam menyelesaikan masalah.

Dari penelitian ini, saya ingin menawarkan suatu konsep terapi psiko-spiritual untuk membantu para korban gempa keluar dari tekanan psikologis yang dialami pasca-bencana. Terapi serupa pernah dilakukan oleh seorang psikolog, Sus Budiharto, bekerjasama dengan Center for Bioethics and Humanities Fakultas Kedokteran UGM terhadap beberapa mahasiswa yang berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam. Berbeda dengan terapi sebelumnya yang bersumber dari nilai-nilai keislaman (Alquran dan Sunnah Nabi), terapi yang saya kembangkan ini memungkinkan individu non-muslim untuk ikut serta.

Terapi psiko-spiritual ini terdiri dari tiga tahapan, yaitu tahapan penyadaran diri (self awareness), tahapan pengenalan jati diri dan citra diri (self identification), dan tahapan pengembangan diri (self development). Pada fase penyadaran diri, para korban akan melalui proses pensucian diri dari bekasan atau hal-hal yang menutupi keadaan jiwa melalui cara penyadaran diri, penginsyafan diri, dan pertaubatan diri. Fase ini akan menguak hakikat persoalan, peristiwa, dan kejadian yang dialami oleh para korban. Pun menjelaskan hikmah atau rahasia dari setiap peristiwa tersebut.

Selanjutnya, pada fase pengenalan diri, para korban akan dibimbing kepada pengenalan hakikat diri secara praktis dan holistik dengan menanamkan nilai-nilai ketuhanan dan moral. Melalui fase ini, individu diajak untuk menyadari potensi-potensi yang ada di dalam dirinya. Setelah diidentifikasi, pelbagai potensi itu perlu segera dimunculkan. Kemudian mengelola potensi diri yang menonjol tersebut agar terus berkembang dan dicoba untuk diaktualisasikan. Adalah sebuah riwayat yang menyebutkan, “Barangsiapa mengenal dirinya, maka dia pun akan mengenal Tuhannya.”

Terakhir, pada fase pengembangan diri, para korban akan didampingi dan difasilitasi untuk tidak hanya sehat fisikal, namun juga sehat mental dan spiritual. Kesehatan mental terwujud dalam bentuk keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi masalah yang terjadi, dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya. Adapun kesehatan spiritual mencakup penemuan makna dan tujuan dalam hidup seseorang, mengandalkan Tuhan (The Higher Power), merasakan kedamaian, dan merasakan hubungan dengan alam semesta.

Harapannya, terapi psiko-spiritual akan memberikan penerimaan yang tulus atas musibah yang menimpa para korban gempa. Selain itu, terapi ini dapat pula mengurangi  kesedihan dan tekanan psikologis, serta membantu para korban dalam menemukan makna yang positif dari pengalaman dan kehidupannya. Yang lebih penting, terapi ini membantu korban dalam usaha penerimaan diri dan mengenal Tuhannya, sehingga spiritualitasnya semakin meningkat. Mahabenar Allah dalam firman-Nya: “Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath-Thalaaq [65]: 7)

Mei 6, 2010

Ilmu yang Menerangi

Filed under: Esai — fosimamupsi @ 5:31 pm

Esai yang pernah dipublikasikan dalam Buletin Psikologi Islami Insight Edisi Spesial Agustus 2005 ini ditulis oleh Ardiman Adami. Mantan Ketua IMAMUPSI Komsat UII yang juga Staf Humas Asosiasi Psikologi Islami ini sedang menyelesaikan kuliah magister psikolog bidang industri dan organisasi di Universitas Islam Indonesia.

***

Dalam kehidupan ini, sekedar menjadi sosok pintar tidaklah cukup. Tidak hanya menjadi pintar, kita juga harus ngerti. Pintar dan ngerti, keduanya memang tampak sama. Namun, mengerti lebih utama ketimbang pintar. Kata orang Sunda, “Keur ngerti teu kudu pinter.” Untuk mengerti tidak harus pintar. Ungkapan ini sejatinya adalah kritik terhadap ‘orang-orang pintar’. Mereka terlalu mengagungkan rasionalitas dan membuat mereka sombong. Contoh berikut ini diceritakan oleh Jalaluddin Rumi.

Alkisah, seorang petani hendak menjual sekarung gandum ke pasar. Ketika karung gandum itu dimuatkan di atas punggung untanya, karung itu selalu terjatuh.

Setelah berpikir keras, ia lalu mengisi satu karung lagi dengan pasir. Petani itu bahagia karena merasa sudah menemukan pemecahan yang menakjubkan. Dalam keadaan setimbang, kedua karung itu bertengger di samping untanya. Satu karung berisi gandung, yang lain berisi pasir.

Di pertengahan jalan, petani tadi bertemu dengan seorang yang tampaknya miskin. Tubuhnya kurus, pakaiannya lusuh, dan tidak bersepatu. Ketika duduk bersama, beristirahat, petani mendapatkan bahwa orang itu ternyata sangat cerdas. Ia mengetahui banyak hal. Ia mengenal tokoh-tokoh besar, kota-kota besar, dan ide-ide besar. Tidak henti-hentinya petani itu takjub dengan kepintarannya. Terkesan bijak.

Lalu orang itu menanyakan apa yang dibawa petani di atas untanya. Petani menjawab, “Satu karung berisi gandum dan satu lagi berisi pasir.” Orang itu tertawa. Kemudian berkata, “Mengapa tidak Anda bagi dua gandum itu dan menyimpannya dalam dua karung, masing-masing setengahnya?”

Petani makin kagum. Ia tidak pernah sampai pada pemikiran secemerlang itu. Tiba-tiba ia menyadari keadaan “orang bijak” itu. Ia lalu bertanya, “Apakah Anda punya pekerjaan?”

“Saya tidak punya sepatu, rumah, atau pekerjaan,” jawab orang itu. “Bahkan untuk makan malam pun,” lanjutnya, “Saya tidak tahu apakah saya bisa memperolehnya.”

“Lalu apa yang Anda peroleh dari semua kecerdasan dan ilmu pengetahuan Anda?” tanya petani lagi. “Saya hanya mendapat sakit kepala dan khayalan hampa.”

Buru-buru petani tadi bangkit dari duduknya. Ia kemudian melepaskan tali untanya dan beranjak pergi. “Pergilah menjauh dariku. Aku khawatir kemalanganmu akan berpindah kepadaku. Aku bodoh karena mengisi sekarung lagi dengan pasir. Tapi ketololanku telah memberikan kehidupan bagiku,” serunya.

Ada hikmah yang bisa kita petik dari kisah ini. Kita mesti berkaca. Apa yang sudah kita lakukan dengan ilmu kita? Sudahkah kita mengerti dan mengamalkannya? Kita tentu tidak mau seperti orang pintar dalam cerita Rumi. Baginya, ilmu hanya menjadi sumber sakit kepala dan khayalan hampa.

Dalam Al-Mujaadilah ayat 11, Allah menyatakan keutamaan orang berilmu. Ilmu yang disertai iman adalah ukuran derajat manusia. Karena ilmu, manusia berbeda dengan makhluk lainnya. Tidak salah jika orang yang berilmu itu menjadi rendah diri. Dia mau membagi ilmunya secara total. Dia senang apabila ada orang lain yang dapat mengecap dan menyerap ilmunya. Baginya, ilmu adalah cahaya. Cahaya bagi diri, pun bagi orang lain. Cahaya itu tak ubahnya laksana ruh yang memberi jalan hidup bagi seseorang untuk tumbuh dan berkembang melintasi zaman. Dalam konteks masyarakat, cahaya itu akan mewujudkan kemajuan dan kemakmuran.

Sifat ilmu memang menerangi. Menerangi di tengah-tengah gulitanya kebodohan dan kemiskinan. Ilmu yang dapat menerangi hanya dapat diterima oleh seseorang yang bersih dan suci. Artinya, seseorang hanya akan memperoleh ilmu yang bercahaya dan dapat benar-benar menguasainya apabila dia mampu kembali ke fitrahnya. Mungkin, orang-orang seperti itulah yang derajatnya kemudian ditinggikan oleh Sang Maha Menguasai Ilmu. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Ilmu itu akan menempatkan pemiliknya pada kedudukan tinggi lagi mulia. Ilmu adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan akhirat.”

Maka, karena Allah adalah sumber pengetahuan, Ia dapat memberikan ilmu hanya kepada yang diinginkan-Nya. Mahabenar Allah dalam firman-Nya, “Allah memberikan hikmah (ilmu) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak.”

April 25, 2010

Satu Sisiku

Filed under: Pojok Sastra — fosimamupsi @ 6:08 am

Cerpen yang ditulis oleh Tina Andrilina ini pernah dipublikasikan dalam Buletin Psikologi Islami Insight Edisi Spesial Agustus 2005. Tina, begitu dia biasa disapa, pernah menjadi staf Divisi Human Resources Development IMAMUPSI Komsat UII. Saat ini, Tina menjadi assessor di PT. Riau Andalan Pulp and Paper setelah menyelesaikan kuliah magister profesi psikologi bidang industri dan organisasi di Universitas Indonesia.

***

Gelap. Aku berjalan perlahan. Tak terdengar suara apapun, kecuali suara tapak kakiku sendiri memijaki lorong yang sumpek dan becek. Tapi hatiku tidak tenang. Aku merasa diintai. Entah oleh siapa. Aku takut sekali. Kuberanikan diri berlari secepat mungkin. Tapi semakin cepat lariku, aku merasa orang-orang itu semakin cepat juga mengikutiku. Jantungku berdegup sangat keras. Nafasku memburu. Aku takut sekali.

Kenapa? Mengapa? Otakku penuh oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak jelas.

“Toloong…!!” teriakku.

Lalu tiba-tiba kakiku kaku tak bisa bergerak. Aku mencoba berteriak lagi, tapi  tenggorokanku serasa tercekik. Jantungku memompa semakin kencang. Di sela-sela nafasku yang semakin sesak, kucoba menyebut nama Allah.

Kakiku tetap tak bisa bergerak. Stresku sudah sampai ke ubun-ubun. Aku pegang bibirku, biar aku yakin benar-benar melafalkan nama Allah.

“Astaghfirullah,” ucapku sambil mengusap wajahku yang basah. Entah sudah berapa kali aku mimpi seperti ini.

Siapa mereka? Kenapa aku merasa takut sekali mereka akan mencelakaiku? Kenapa mimpi ini berulang kali aku alami?

Sejenak aku mematung. Pikiranku kosong, tak tau mencerna apa. Beberapa detik kemudian aku langsung terkesiap. Kugeleng-gelengkan kepala sambil mengerjap-ngerjapkan mataku kuat-kuat. Lantas aku bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.

***

Kutatap diriku di seberang cermin ini. Rambut pendek berbelah samping, mata besar, hidung mancung, wajah tirus dan nyaris tanpa jerawat. Tubuhku yang kurus dan tinggi memang terlihat nyata tidak berisi memakai kemeja putih dan celana panjang hitam ini.

Hari ini hari terakhir ujian SPMB. Kuteguk teh manis hangat yang kubuat sendiri pagi ini. Sambil memakan roti cokelat, hatiku terasa sedikit miris. Ibu sedang apa ya pagi ini di kampung? Seandainya ibu di sini bersamaku, pastilah beliau yang sibuk mempersiapkan sarapan untukku. Sebenarnya bukan hal mempersiapkan sarapan yang membuat hatiku seperti ini, tapi dukungan emosional seorang ibulah yang lebih tepatnya aku butuhkan di saat seperti ini. Karena dukungan ibu yang penuh kasih, selalu dapat membuatku nyaman.

Bagaimanapun semua aku syukuri. Walaupun supaya dapat terus bersekolah, aku harus rela berpisah dari ibu dan adik-adikku. Paman Sapto, adik ibu yang cukup sukses, telah berbaik hati menawarkan akan membiayaiku sekolah hingga tamat kuliah. Meskipun hal itu sangat membuatku gembira, namun mengingat bahwa untuk itu aku harus berangkat dan tinggal di kota agar mendapatkan pendidikan yang lebih bagus, dan meninggalkan ibu dan empat orang adikku, sungguh membuatku berat untuk memilih.

Sejak ayah meninggal lima tahun silam, praktis ibuku yang harus bekerja keras membanting tulang demi menghidupi keluarga kami. Sewaktu aku mengutarakan niat untuk berhenti sekolah agar dapat bekerja, ibu melarangku. “Tidak perlu kamu khawatir, nak. Insya Allah Ibu kuat bekerja sendiri. Semua yang ibu lakukan ini untuk kebaikan kita bersama. Jadi kamu janganlah sampai berhenti sekolah. Kamu anak tertua. Besar harapan Ibu demi masa depanmu agar nantinya kamu dapat menolong adik-adikmu.”

“Yakinlah nak,” lanjut Ibu, “Di mana ada kemauan, pasti ada jalan keluar yang terbaik untuk kita.”

Demikian juga ketika bimbangku atas niatan paman Sapto menawariku bersekolah di kota. Ibu jualah yang menyemangati dan membesarkan hatiku untuk menerima tawaran tersebut. “Inilah bukti kebesaran Allah, nak! Alhamdulillah, selalu saja ada pertolongan untuk kita. Jadi jangan kamu khawatirkan ibu dan adik-adikmu di sini. Insya Allah, Allah selalu melindungi kita semua. Ibu dan adik-adikmu menyimpan harapan besar padamu.”

Ya, harapan besar yang sebenarnya merupakan beban berat di punggungku. Tapi itu tidak membuatku merasa berat. Justru membuatku bersemangat dan yakin untuk meraih masa depanku. Dan setelah tamat SMP, akupun ikut paman hjirah ke kota.

Kini tinggal melewati ujian SPMB ini saja untuk dapat masuk ke universitas negeri. Mengilas balik masa-masa SMA, ah… lebih baik lupakan saja! Segera aku bersepatu, mengunci kamar kost dan menuju ke tempat ujian.

***

Fyuh… Soal-soal tadi sungguh membuat otakku benar-benar terkuras. Mengira-ngira lulus atau tidak saja, aku tidak berani. Jangankan untuk berpikir yang berat-berat, yang ringan saja rasanya otakku menolak. Aku ingin cepat-cepat pulang!

“Hallo, Sofyan! Jalannya pelan-pelan donk, jangan sampe jatuh! Nanti kalo jatuh, kamu nangis sendiri lagi. Hu…hu…hu…!” kata Oka yang langsung disambut tawa riuh teman-temanku yang lain.

Bahkan di antara mereka ada yang menirukan caraku berjalan. Pikiran capek begini, hatiku tambah pedih.

***

Ya… Inilah aku! Setiap apa yang ingin kulakukan, selalu terbentur masalah ini. Hal yang sangat-sangat berat bagi orang sepertiku.

Aku merasa bukan diriku. Aku merasa hidupku ini adalah mimpi buruk. Aku ingin berontak dan keluar dari fisikku yang jelas-jelas seorang lelaki. Aku ini perempuan! Ingin rasanya aku berteriak dihadapan dunia. Tapi aku bisa apa? Jangankan untuk berkeluh kesah pada orang-orang terdekat, sahabat atau paling tidak orang yang kupikir dapat mengerti apa yang kurasa saja, aku tidak punya. Atau mungkin lebih tepatnya, aku merasa sangat tidak aman untuk mengakui satu sisiku. Sisi yang sesungguhnya.

Aku sudah merasakannya sejak sekolah dasar. Aku suka melihat perempuan berambut panjang dan ingin sekali bisa berambut panjang. Aku senang sekali diajak bermain lompat tali dan rumah-rumahan daripada bermain bola. Aku suka melihat perempuan didandani ketika akan ada suatu acara atau akan menikah. Sampai-sampai rasanya aku ingin sekali mencoba alat-alat dandan itu. Lucu memang.

Terbayang jelas dalam ingatanku, bagaimana awalnya aku digoda, lalu kemudian diejek oleh kerabatku karena suka bermain permainan perempuan. Lalu Ibuku yang tidak pernah marah, tetapi juga tidak pernah mengajakku berbicara dari hati ke hati tentang hal itu. Namun, Ibu tetap memberiku pekerjaan rumah yang biasa aku lakukan, seperti membantu memasak, mencuci baju dan mengasuh adik-adikku sementara Ibu bekerja sebagai pembantu di rumah orang lain.

Beruntung aku hidup di keluarga yang taat beribadah. Selama ini, meskipun selalu digetarkan kebimbangan atas jati diri, aku tetap menunaikan ibadah layaknya muslim lainnya.

Lantas aku teringat betapa banyaknya kepedihan yang yang aku rasa sejak awal SMA. Dianggap aneh, diejek, bahkan hampir selalu jadi objek penderita atas perlakuan teman-teman di sekolahku. Mereka merasa sangat kompak dan berkuasa melakukan apa saja terhadap orang-orang yang lemah sepertiku.

Beranjak ke tahun berikutnya, penderitaanku mulai berkurang. Teman-teman mungkin sudah bosan mengejek dan mengerjaiku, atau mungkin aku yang sudah menganggap hal itu menjadi biasa saja. Tapi penderitaan itu tidak hilang. Selalu saja aku merasa tertekan. Bahkan ketika teman-teman tidak mengejekkku secara terang-terangan, hatiku yang seperti perempuan ini terlalu sensitif sehingga membuatku hampir selalu berprasangka buruk. Yang jelas, memang, aku jadi tertutup dan tidak punya teman dekat.

Ragu untuk bergaul dan diterima, selalu muncul setiap kali aku mulai mencoba berinteraksi dengan teman-teman. Aku jelas merasa tidak cocok dengan teman-temanku yang laki-laki, karena mereka terlalu kasar dan jelas-jelas bukan duniaku. Namun, aku juga merasa tidak diterima oleh teman-temanku yang perempuan, karena dianggap bukan bagian dari mereka. Padahal di dalam sini, aku sangat perempuan! Siapa yang mengerti aku? Tidak ada! Aku merasa ditolak dari dunia ini.

Hanya karena harapan Ibulah, aku terus berusaha menguatkan hatiku. Bertahan dengan semua ini. Harapan bahwa aku akan dapat membantu meringankan beban Ibu dan membahagiakan keluargaku yang tersisa tanpa ayah.

***

Dua minggu berlalu. Tidak ada yang kulakukan setelah ujian SPMB. Akhirnya hanya di kos saja, menonton TV  dan iseng-iseng membaca koran-koran yang tertumpuk di bawah rak TV. Entah punya siapa. Kulihat tanggalnya, semuanya  terbitan berminggu-minggu lalu.

Hatiku terusik membaca berita “Pemilihan Waria Indonesia”. Apa ini? Hatiku semangat membacanya. Ternyata di Indonesia telah diadakan pemilihan waria seperti pemilihan putri Indonesia. Selain penuh kontroversi, banyak juga komentar waria-waria yang menyuarakan hatinya. Sambil membaca, kutemui perasaan-perasaan senasib. Ternyata aku tidak sendiri. Banyak juga orang sepertiku. Tapi bedanya, mereka berani, bersatu, dan juga berpendidikan.

Lantas tiba-tiba, hasratku menjadi menggebu-gebu sekali. Aku ingin bisa seperti mereka, seperti waria-waria itu. Mereka sepertinya bahagia meskipun tidak menjadi perempuan sungguhan. Mereka boleh berdandan, bergaya dan berperilaku seperti perempuan. Mereka tidak peduli meskipun banyak masyarakat yang mencibir. Mereka tidak merasa terkucilkan, malah sudah membuat semacam persatuan waria.

Waria. Wanita yang terjebak dalam tubuh pria. Itu aku! Aku wanita, tapi secara fisik, jelas aku berjenis kelamin pria. Lantas aku mulai mencari pembenaran-pembenaran tentang kasusku ini. Berkaca pada kisah-kisah waria yang berhasil dan menonjol di masyarakat. Bahkan ada beberapa waria juga yang sudah hajjah dan berjilbab! Aku terkagum-kagum atas keberanian dan perjuangan mereka. Dan aku merasa mulai menjadi bagian mereka.

***

Kata-kata dan wajah Ibu berulang kali terngiang dan terlintas dalam benakku.

“Tenanglah Ibu, anakmu ini hanya mengikuti suara hatinya. Biarlah ia berjuang untuk mendapatkan jati diri yang selama ini selalu disembunyikannya dari dunia. Tenanglah Ibu, anakmu ini tetap akan berusaha mewujudkan harapan untuk membahagiakan Ibu dan adik-adik. Itu sudah janji saya, Bu. Meskipun akan terlihat berbeda, tapi sesungguhnya kali ini saya merasa sangat jujur atas apa yang saya rasakan.”

Esok saya bukan lagi Sofyan. Saya Soffi, wanita yang sangat lembut.

***

Jalan ini becek. Samar-samar aku sadari ini lorong yang sama, sumpek dan pengap! Aku sontak berlari. Aku merasa sangat tidak aman! Kumohon… kupikir ini sudah berakhir, aku capek! Tapi aku terus berlari, kali ini seperti tidak bisa berhenti. Aku berteriak-teriak minta tolong. Kenapa? Ada apa ini? Tolong…!!

Aku merasakan ketakutan yang teramat sangat. Kakiku tidak bisa berhenti. Tubuhku berguncang. Nafasku sesak. Air mata meleleh di pipiku.

Jika aku mati, akan mati sebagai apakah aku? Apa aku masih bisa memilih? Apa aku masih punya kesempatan?

Ya Allah… Ampuni aku!

***

Aku tersedu di sujudku pada-Mu, ya Rabbi… Ampuni hambamu ini! Betapa hamba kufur akan nikmat-Mu dan berpaling dari hal yang telah Kau ciptakan untukku.

Jelas. Sungguh semuanya jelas.

“Jangan sekali-kali kamu tertipu oleh kegiatan orang kafir yang lalu lalang di muka bumi. Itu hanyalah kesenangan yang sementara. Kemudian tempat kembali mereka adalah Jahanam, tempat kembali yang paling buruk.” (QS. Ali-Imron: 196-197)

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah, tabahlah, dan kuatkan hati. Takwalah kamu sekalian kepada Allah agar kamu berjaya.” (QS. Ali-Imron: 200)

Rasulullah melaknat perempuan-perempuan yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai perempuan. Beliau bersabda, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia itu dari golongan mereka.”

Jangan berpaling Sofyan. Sesungguhnya ini cobaan dalam hidupmu. Semua jawaban ada di Kitabullah.

April 18, 2010

Eksistensi Ruhaniyah

Filed under: Pilar Islami — fosimamupsi @ 1:43 pm

Esai yang ditulis oleh Ahmad Baliyo Eko Prasetyo ini pernah dipublikasikan dalam Buletin Psikologi Islami Insight Edisi 12/Th. II/30 November 2005. Eko, begitu dia biasa disapa, pernah menjadi Koordinator Divisi Psychology on Moved IMAMUPSI Komsat UII.

***

Begitu banyak sesuatu yang kita ketahui, kita rasakan atau kita yakini. Namun, harus kita akui, tidak semuanya dapat dipahami dan dijelaskan. Kita yakin bahwa kita, manusia, terdiri dari tubuh dan ruh kehidupan. Kita yakin bahwa kita bisa hidup dengan adanya ruh. Atau bahkan, kita mungkin punya pengalaman spiritual berkaitan dengan eksistensi lain dalam diri kita. Seorang teman pernah bercerita – kebetulan teman saya ini dikenal taat ibadah dan seorang hafidz – suatu malam setelah salat tahajud, ia membaca salawat, seraya menaruh peci di depannya. Tiba-tiba ia melihat, atau lebih tepatnya merasakan, sebuah cahaya putih bersih melayang-layang lalu hinggap ke dalam pecinya. Karena terkejut, untuk beberapa saat ia terdiam. Setelah itu, ia merasakan kedamaian dan ketenangan yang tiada tara, yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Ada juga orang-orang ‘pintar’ yang mampu melihat dan merasakan apa yang dirasakan orang lain dan sebagainya. Namun, sekali lagi, sulit bagi kita untuk memahaminya. Apakah semua itu merupakan indikasi yang menunjukkan eksistensi ruh dan potensinya? Kalau iya, apakah semua yang tidak dapat dijelaskan merupakan hasil dari potensi ruh? Atau pertanyaan mendasar, ruh itu sendiri apa? Di manakah letak eksistensi ruh dalam diri manusia? Dan apakah hubungannya dengan Nur Ilahi? Pertanyaan-pertanyaan dan perdebatan tentang adanya ruh (spirit) sebagai eksistensi lain dalam diri manusia (dan agama) telah ada sejak lama sekali dengan corak dan terminologi masing-masing: sejak zaman pra-sejarah, Mesir kuno, Yunani, Romawi, Islam, sempat meredup (di Barat, tidak di Timur) sejak abad pertengahan sampai awal abad 20, dan kemudian kembali dikaji sampai sekarang.

Apa dan bagaiman ruh itu? Islam (dalam Alquran dan Hadis) sebenarnya tidak pernah menjelaskan secara gamblang dan tekstual perihal ruh. Bahkan Alquran sendiri dalam surat Al-Isra’ ayat 85 menyebutkan bahwa hanya sedikit pengetahuan yang Allah berikan tentang ruh. Dalam Alquran, kata ruh memang disebut sebanyak 24 kali dengan berbagai konteks dan makna, dan tidak semuanya berkaitan dengan manusia. Yang berhubungan dengan manusia pun konteksnya bermacam-macam; ada yang dianugerahkan kepada manusia pilihan-Nya (lihat Al-Mukmin ayat 15) yang dipahami sementara mufassir sebagai wahyu yang dibawa malaikat Jibril; ada yang dianugerahkan kepada orang-orang mukmin (lihat Al-Mujaadilah ayat 8)- yang dipahami sebagai dukungan dan peneguhan hati atau kekuatan batin.

Masalah seluk-beluk ruh yang berhubungan dengan eksistensi dalam diri manusia bukanlah masalah yang mudah dan tidak semua orang dapat memahaminya, kecuali orang-orang yang dikehendaki Allah. Tapi, masalah ini bisa dipelajari, dipahami dan dikenal dengan baik bagi siapa saja yang ingin hakikat kebenaran dan kebenaran hakikat secara aplikatif-empirik. Hal yang menjadi masalah justru adalah minat dan keyakinan terhadap kebesaran Allah.

Manusia secara garis besar terdiri dari aspek material (jasmaniyah) dan spiritual (ruhaniyah) yang saling terkait satu sama lain. Sebagian besar manusia mementingkan aspek material dan mengabaikan aspek spiritual dengan selalu berperilaku memuaskan jiwa-fisiknya dengan segala cara. Hal ini mengakibatkan ruhaninya tertutup dan tidak mampu menemukan Nur Ilahi. Ada yang berpendapat bahwa semua ruh itu suci karena ia adalah ruh Allah yang ditiupkan kepada manusia, sesuai firman-Nya dalam surat Al-Hijr ayat 29. Ada juga yang berpendapat bahwa semua ruh itu asalnya suci, namun ia bisa berubah sesuai tingkah laku manusia di mana ruh tinggal selama di dunia. Sebagian ulama salaf membagi ruh berdasarkan fungsi, martabat, dan potensinya.

Potensi ruh yang berkualitas Ilahiyah dari seorang hamba adalah tergantung pada kedekatannya dengan Allah. Fenomena-fenomena itu akan terlihat dan terasakan pada kualitas ekspresi yang terpancar melalui aktivitas kemanusiaannya, baik secara vertikal maupun horizontal. Tidak ada tabir baginya yang menutupi kegaiban-kegaiban, kecuali hakikat Dzat Allah. Seluruh unsur jasmaniyahnya tidak dapat menerima hal-hal atau segala sesuatu yang tidak hak, seperti makanan dan minuman yang haram, syubhat dan kotor; tidak dapat bersenyawa dengan darah, daging dan kulitnya. Demikian pula unsur ruhaniyahnya, ia tidak dapat bercampur dengan segala sesuatu apapun, kecuali Nur Ilahi. Segala dorongan-dorongan negatif akan tertolak. Allah berfirman dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh At-Thabrany dari Abu Umamah ra: “Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah sehingga Aku mencintainya. Maka, Aku akan menjadi pendengarnya, yang ia akan mendengar dengan pendengaran-Ku; dan Aku menjadi penglihatannya yang dengan penglihatan-Ku ia akan melihat; dan Aku akan menjadi lisannya, yang dengan lisan-Ku ia akan bertutur kata; dan Aku akan menjadi qalbunya, yang dengan qalbu-Ku ia akan berpikir; maka apabila ia berdoa kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya; dan apabila ia meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya; dan jika ia meminta pertolongan kepada-Ku, niscaya Aku akan menolongnya. Suatu ibadah yang paling Aku senangi yang ia lakukan adalah mengerjakan sesuatu perbuatan sebersih-bersihnya hanya untuk-Ku.”

Sementara itu, kajian mengenai eksistensi ruh (spirit) dalam ilmu-ilmu pengetahuan Barat, khususnya psikologi, tidak terlepas dari kekecewaan-kekecewaan yang memuncak terhadap teori-teori lama yang ternyata tidak mampu menjelaskan banyak hal dalam kehidupan manusia yang akhirnya ‘memaksa’ para ahli psikologi untuk melirik agama kembali dengan melalui pendekatan sans. Jalaluddin Rakhmat secara gamblang menjelaskan kronologi bersatunya kembali agama dan psikologi yang sempat terpisah. Ini ditandai dengan lahirnya aliran psikologi transpersonal yang kemudian diikuti oleh wacana psikologi agama.

Dalam buku Psikologi Agama: Sebuah Pengantar, Vaughan dkk. menyebutkan empat dasar psikologi traspersonal. Pertama, psikologi transpersonal adalah pendekatan menyeluruh yang menyentuh semua tingkat spektrum identitas-prapersonal, personal dan transpersonal. Tahap transpersonal di mana individu menjadi person yang menyadari kerinduannya akan pengetahuan diri yang mendalam. Kedua, mengakui pandangan dunia spiritualnya sebagai hal yang utama. Ketiga, proses “kebangkitan dari identitas kecil menuju identitas yang lebih besar”. Keempat, ia membantu proses kebangkitan/pencerahan dengan menggunakan teknik-teknik yang mempertajam intuisi dan memperdalam kesadaran personal dan traspersonal tentang diri.

Jelaslah, meskipun secara tidak langsung menyebutkan hubungannya dengan Tuhan, psikologi transpersonal dan psikologi agama mengakui adanya entitas atau eksistensi ruh (spirit) yang berhubungan dengan logos non material dan yang mengatur pola penciptaan alam semesta maupun manusia (macro cosmos dan micro cosmos). Seperti kata Karl Jasper, “Semakin sejati kemerdekaan manusia, semakin besar kepastiannya untuk mengenal Tuhan.”

April 15, 2010

Polemik Psikologi Islami

Filed under: Esai — fosimamupsi @ 12:42 pm

Esai yang ditulis oleh Fuad Nashori ini pernah dipublikasikan dalam Buletin Psikologi Islami Insight Edisi Agustus 2005.

***

Istilah yang digunakan dalam bahasa Inggris adalah Islamic Psychology. Dalam bahasa Arab disebut al-’Ilm al-Nafs al-Islamy. Dalam bahasa Indonesia, disebut Psikologi Islami ataukah Psikologi Islam?

Psikologi Islami ataukah Psikologi Islam, itulah salah satu bahan perdebatan di antara para perumus dan pengkaji psikologi Islami. Pada awal 1990-an, orang berdebat tentang apakah Psikologi Islami, Psikologi Qurani, Psikologi Alquran, Psikologi Ilahiyah, Psikologi Profetik (kenabian), ataukah Nafsiologi? Dengan terbitnya Jurnal Pemikiran Psikologi Islami Kalam (1992-1994) oleh KMP UGM, disusul buku Psikologi Islami: Solusi Islam Atas Problem-problem Psikologi karya Djamaludin Ancok dan Fuad Nashori, serta diselenggarakannya Simposium Nasional I Psikologi Islami (1994), nama Psikologi Islami menjadi berkibar. Apalagi setelah itu berbagai macam pertemuan ilmiah dan penerbitan ilmiah didominasi oleh istilah Psikologi Islami. Salah satu buku yang ikut serta mengukuhkan nama Psikologi Islami adalah Paradigma Psikologi Islami, sebuah buku yang ditulis berdasarkan disertasi S-3 di UIN Yogyakarta, karya Baharuddin, dosen IAIN Sumatra Utara. Nama-nama yang lain, sebagaimana disebutkan di atas, berangsur-angsur tenggelam.

Pada akhir 1990-an, yaitu sejak terbitnya Fitrah dan Kepribadian Manusia (Abdul Mujib, 1999) dan Jiwa dalam Al-Qur’an (Achmad Mubarok, 2000), nama Psikologi Islam mulai mendapat tempat. IMAMUPSI (Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi Indonesia), yang ketuanya selama dua periode terakhir adalah mahasiswa UIN Jakarta, mulai menggunakan nama Psikologi Islam, di samping istilah Psikologi Islami yang sudah biasa mereka gunakan sebelumnya. Setelah itu, dalam berbagai macam kesempatan, sekalipun istilah Psikologi Islami telah diterima dalam berbagai forum, keinginan sebagian orang yang berasal dari studi Islam untuk menggunakan nama Psikologi Islam tetap muncul dan kuat. Dalam Kongres I Asosiasi Psikologi Islami yang berlangsung di Surakarta pada Oktober 2003, nama Psikologi Islam dimunculkan lagi.

Puncaknya, dalam acara Workshop Kurikulum Psikologi Islami yang berlangsung di Bogor, 8-9 Agustus 2005, yang diselenggarakan oleh Departemen Agama RI dan Psikologi UIN Jakarta, perdebatan tentang masalah tersebut muncul lagi. Pakar yang berasal dari studi Islam, di antaranya Abdul Mujib dan didukung Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara, bersikukuh dengan istilah Psikologi Islam. Sementara ahli-ahli yang pernah mengikuti pendidikan psikologi lebih memilih istilah Psikologi Islami.

Melalui berbagai argumentasi akhirnya dibuat kesepakatan mengenai masalah tersebut. Salah satu kesepakatannya adalah digunakannya istilah Psikologi Islami. Netty Hartati, dekan Fakultas UIN Jakarta, menyampaikan perlunya penggunaan nama Psikologi Islami, karena istilah itu telah digunakan dalam Deklarasi Asosiasi Psikologi Islami yang berlangsung di Fakultas UIN pada 23 Agustus 2002. Hanna Djumhana Bastaman mengungkapkan bahwa nama Psikologi Islami telah digunakan dalam Simposium Nasional Psikologi Islami I 1994 dan beberapa simposium sesudahnya. Dr. Rakhmat Ismail, Ketua Umum HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia), memilih istilah Psikologi Islami, karena kita tidak pernah bisa yakin bahwa pemikiran manusia benar-benar Islam. Istilah Psikologi Islami menandai kesadaran manusia akan kekurangannya. Saya sendiri tentu saja memilih menggunakan istilah Psikologi Islami dengan alasan: memiliki pengertian yang lebih luas dibandingkan dengan istilah Psikologi Islam.

Dalam berbagai kesempatan, saya memberi pengertian Psikologi Islami sebagai studi tentang jiwa dan perilaku manusia yang sesuai dengan pandangan dunia Islam. Dengan pengertian tersebut, ada tiga hal yang dapat dipandang sebagai pemikiran psikologi Islami, yaitu (a) teori/konsep yang dirumuskan dengan berdasarkan Alquran, Hadis, dan khazanah pemikiran Islam, (b) penilaian evaluatif Islam terhadap konsep-konsep psikolgi modern, dan (3) penggunaan pandangan psikologi Barat (yang sudah dikritisi) untuk menerangkan berbagai pandangan dan kondisi umat Islam. Penulis sendiri menolak penggunaan istilah Psikologi Islam, karena istilah ini hanya berisi pandangan yang berasal dari ajaran Islam, yakni Alquran, Hadis, dan khazanah pemikiran Islam.

Dengan alasan di atas, tidak ragu lagi untuk mengatakan bahwa nama yang tepat adalah Psikologi Islami, bukan Psikologi Islam.

April 13, 2010

Satu Kata Menuju Kebangkitan

Filed under: Kabar Kabari — fosimamupsi @ 11:29 am

Delapan organisasi keilmuan psikologi Islami mencapai kata sepakat untuk menyelenggarakan Musyawarah Nasional Luar Biasa Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi Indonesia (MUNASLUB IMAMUPSI) pada akhir Juni 2010 di Yogyakarta. Kesepakatan ini diambil dalam Sarasehan Mahasiswa Muslim Psikologi Indonesia yang diselenggarakan oleh IMAMUPSI Komisariat UII pada hari Sabtu, 3 April 2010 di Ruang Audiovisual Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia. Forum silaturahmi dengan tema “Nikmati Indahnya Kebersamaan, Genggam Erat Persaudaraan” ini dihadiri oleh tidak kurang 50 peserta dari beberapa universitas di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Mereka merupakan perwakilan mahasiswa dari IPLF (Islamic Psychology Learning Forum) Universitas Gadjah Mada, PsyCiF (Psychology Creative Forum) UIN Sunan Kalijaga, IMAMUPSI Komsat UII, IMAMUPSI Komsat Universitas Ahmad Dahlan, IMAMUPSI Komsat Universitas Muhammadiyah Surakarta, BIKROHIS HIMAPSI (Biro Kerohanian Islam Himpunan Mahasiswa Psikologi) Universitas Sebelas Maret, KESPPI (Kelompok Studi Pengembangan Psikologi Islami) Universitas Diponegoro, dan IMAMUPSI komsat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dekan FPSB UII, yang juga Ketua Umum Pengurus Pusat Asosiasi Psikologi Islami, H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., Psikolog, berkesempatan untuk memberikan sambutan dan membuka secara simbolis sarasehan tersebut.

Sarasehan diawali dengan Obrolan Psikologi Islami dengan tema “Why Do We Need Islamic Psychology” yang menghadirkan dua tokoh psikologi Islami, H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., Psikolog dan Drs. Bagus Riyono, MA., sebagai pembicara. Diskusi yang dipandu dengan baik sekali oleh Direktur IPLF UGM, Yurisa Nurhidayati, ini ditujukan untuk membangun persepsi yang sama bagi para peserta dalam memahami psikologi Islami. “Sampai saat ini, belum ada teori yang dapat menjelaskan kemunduran dan kemajuan bagsa-bangsa. Teori-teori psikologi Barat itu sifatnya parsial, temporer, dan saling bertentangan. Sedangkan Islam sebagai paradigma dapat melihat semua teori itu bagai puzzle yang saling melengkapi. Iman is the hole picture of life,” jelas Bagus Riyono, dosen Fakultas Psikologi UGM. Sementara itu, Fuad Nashori melengkapi diskusi dengan menggambarkan bagaimana teori yang baik dan benar, serta bagaimana tahapan pengembangan psikologi Islami yang bisa melalui tiga wilayah, yakni perumusan, penelitian, dan penerapan.

Selepas istirahat siang, acara dilanjutkan dengan perkenalan masing-masing organisasi yang berpartisipasi dalam sarasehan tersebut. Dengan arahan Rizkia Nurinayanti, mantan Direktur IPLF UGM, satu per satu organisasi mempresentasikan profil organisasinya kepada para peserta. Yoga Sukmawijaya, Ketua PsyCiF UIN Sunan Kalijaga, mengawali sesi perkenalan tersebut. Berturut-turut Tanti Setyarini dari IMAMUPSI Komsat UII, Wahyu Dwi Apriwati dari BIKROHIS HIMAPSI UNS, Ulfi Atka Arianti dari UIN Malang, Aftina Nurul Husna dari KESPPI UNDIP, dan Ridho Islami dari IMAMUPSI Komsat UMS, bergantian memperkenalkan organisasinya. Laeli Wahidatul Hidayati dan Kusuma Wijaya Paputungan dari IMAMUPSI Komsat UAD mengakhiri sesi tersebut.

Di sela-sela jalannya acara, Ilhamuddin Nukman, salah seorang Pengurus Pusat IMAMUPSI, menyempatkan hadir dalam kegiatan yang diprakarsai oleh IPLF UGM dan KESPPI UNDIP ini. Mas Ilham, begitu alumni UIN Malang ini disapa, sangat mendukung terselenggaranya sarasehan ini di tengah-tengah kevakuman Pimpinan Pusat IMAMUPSI selama lebih dari dua periode. Beliau berinisiatif membuat Surat Pernyataan Kesepakatan Bersama (SPKB) sebagai payung hukum yang merekomendasikan perlu adanya MUNASLUB IMAMUPSI. Atas nama seluruh peserta, surat pernyataan itu ditandatangi oleh setiap pemimpin organisasi yang akan diserahkan kepada Ketua Umum PP IMAMUPSI, Fanny Fauzi Hanifunni’am.

Agenda acara berlanjut dengan rapat pembentukan dewan perumus dan kepanitiaan. Yoga Sukmawijaya dan Haening Ratna Suminar masing-masing terpilih sebagai Ketua Dewan Perumus dan Ketua Panitia MUNASLUB IMAMUPSI 2010. “Saya berharap dari MUNASLUB ini, IMAMUPSI bisa bangkit lagi, diisi oleh generasi yang istiqomah, berniat melanjutkan keberlangsungan organisasi ini, dan semangat mempelajari psikologi Islami,” ungkap Haening.

Tema: Rubric. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.